Kematian Yang Kembali Menyadarkan Kita

Assalamu’alaykum

pic google (http://artikel-islam-apasih.blogspot.com)
pic google (http://artikel-islam-apasih.blogspot.com)

Setiap manusia akan mengalami kematian, tidak muda, tua, atau bahkan masih di kandungan pun ada yang sudah mengalami kematian. Mengingat kematian adalah salah satu cara untuk mempertebal ketakwaan guna menyambut kematian yang baik Insya Alloh.

Monggo di simak artikel copas berikut ๐Ÿ˜€

pic google (http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com)
pic google (http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com)

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, penyadar dari kelalaian kita. Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak. Kami mengutarakan beberapa di antaranya kali ini.

Dianjurkan untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadap kematian โ€ฆ

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽูƒู’ุซูุฑููˆุง ุฐููƒู’ุฑูŽ ู‡ูŽุงุฐูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุฐูŽู‘ุงุชู

โ€œPerbanyaklah mengingat pemutus kelezatanโ€ (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani).

Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูู†ู’ุชู ู…ูŽุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽุฌูŽุงุกูŽู‡ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ููŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูู‘ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุซูู…ูŽู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู‰ูู‘ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ : ยซ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูู‡ูู…ู’ ุฎูู„ูู‚ู‹ุง ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฃูŽู‰ูู‘ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฃูŽูƒู’ูŠูŽุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ : ยซ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ู„ูู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ุฐููƒู’ุฑู‹ุง ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูู‡ูู…ู’ ู„ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ุงุณู’ุชูุนู’ุฏูŽุงุฏู‹ุง ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุงู„ุฃูŽูƒู’ูŠูŽุงุณู ยป.

Dari Ibnu โ€˜Umar, ia berkata, โ€œAku pernah bersama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, โ€œWahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?โ€ Beliau bersabda, โ€œYang paling baik akhlaknya.โ€ โ€œLalu mukmin manakah yang paling cerdas?โ€, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, โ€œYang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.โ€ (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Wahai diri ini yang lalai akan kematian, ingatlah faedah mengingat kematian โ€ฆ

[1] Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

[2] Mengingat kematian membantu kita dalam khusyuโ€™ dalam shalat. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุงุฐูƒุฑู ุงู„ู…ูˆุชูŽ ูู‰ ุตู„ุงุชููƒ ูุฅู†ูŽู‘ ุงู„ุฑุฌู„ูŽ ุฅุฐุง ุฐูƒุฑ ุงู„ู…ูˆุชูŽ ูู‰ ุตู„ุงุชูู‡ู ููŽุญูŽุฑูู‰ูŒู‘ ุฃู† ูŠุญุณู†ูŽ ุตู„ุงุชูŽู‡ ูˆุตู„ูู‘ ุตู„ุงุฉูŽ ุฑุฌู„ู ู„ุง ูŠุธู† ุฃู†ู‡ ูŠุตู„ู‰ ุตู„ุงุฉู‹ ุบูŠุฑูŽู‡ุง ูˆุฅูŠุงูƒ ูˆูƒู„ูŽู‘ ุฃู…ุฑู ูŠุนุชุฐุฑู ู…ู†ู‡

โ€œIngatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).โ€ (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

[3] Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

[4] Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูƒุซุฑูˆุง ุฐูƒุฑ ู‡ูŽุงุฐูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ุฐูŽู‘ุงุชู ูุฅู†ู‡ ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุฃุญุฏ ูู‰ ุถูŠู‚ ู…ู† ุงู„ุนูŠุด ุฅู„ุง ูˆุณุนู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆู„ุง ูู‰ ุณุนุฉ ุฅู„ุง ุถูŠู‚ู‡ ุนู„ูŠู‡

โ€œPerbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).โ€ (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

[5] Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Taโ€™ala berfirman,

ุฃูŽู„ูŽุง ูŠูŽุธูู†ูู‘ ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ู…ูŽุจู’ุนููˆุซููˆู†ูŽ

โ€œTidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.โ€ (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Nasehat ulama โ€ฆ.

Abu Dardaโ€™ berkata, โ€œJika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmuโ€

Yang menakjubkan pula dari Ar Rabiโ€™ bin Khutsaim โ€ฆ

Ia pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Taโ€™ala,

ุฑูŽุจูู‘ ุงุฑู’ุฌูุนููˆู†ู ู„ูŽุนูŽู„ูู‘ูŠ ุฃูŽุนู’ู…ูŽู„ู ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ูููŠู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒู’ุชู

โ€œ(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.โ€ (QS. Al Muโ€™minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, โ€œWahai Rabiโ€™, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)! Beramallah โ€ฆโ€

Sumber bacaan: Ahkamul Janaiz Fiqhu Tajhizul Mayyit, Kholid Hannuw, terbitan Dar Al โ€˜Alamiyah, cetakan pertama, 1432 H, hal. 9-13
โ€”
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Dari artikel Kematian Yang Kembali Menyadarkan Kita โ€” Muslim.Or.Id by null.

————————

Semoga kita diberikan kemudahan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, dan mengakhirinya dengan baik pula alias khusnul khotimah Insya Alloh Amin.

Semoga bermanfaat

Wassalam

Aa Ikhwan

20 thoughts on “Kematian Yang Kembali Menyadarkan Kita

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: